WELCOME TO UTFI'S BLOG

Jumat, 18 November 2011

Orang Pintar vs Orang Cerdas


Belakangan ini kita sering mendengar suatu jenis iklan/promosi salah satu jenis rokok yang meminta tentang pendapat dan opini kita. Iklan tersebut memberi kita pilihan suatu oponi yang cocok untuk kita pilih, dan salah satunya tentang lebih penting mana masalah pekerjaan atau masalah pendidikan. Hal tersebut serupa tentang pemikiran orang cerdas dan pemikiran orang pintar. Berikut adalah beberapa fakta pemikiran orang cerdas dan orang pintar yang biasa diterapkan dalam kehidupan dunia.
Coba kita amati secara jelas suatu kisah/fakta-fakta yang membuat orang cerdas lebih menikmati hidup daripada orang pintar :
1. Orang cerdas sulit dapat kerja, akhirnya dia berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus merekrut orang pintar. walhasil bosnya orang pintar adalah orang cerdas.
2. Orang cerdas sering melakukan kesalahan, maka dia merekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki kesalahan orang cerdas. Hasilnya orang cerdas memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang cerdas.
3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijasah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang cerdas berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari pendidikan/proposal yang diajukan orang pintar.
4. Orang cerdas tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruhlah orang pintar untuk membuatkannya.
5. Orang cerdas kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). Oleh karena itu orang cerdas memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang cerdas.
6. Orang cerdas biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tetapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang cerdas. Tapi pada saat itu sudah terlambat, orang cerdas sudah ada di atas.
7. Orang cerdas berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, hasilnya orang-orang pintar menjadi staff/bawahannya orang cerdas.
8. Saat bisnis orang cerdas mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, dan hasilnya orang-orang pintar meratap-ratap kepada orang cerdas agar tetap diberikan pekerjaan.
9. Tapi saat bisnis orang cerdas maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluargannya.
10. Mata orang cerdas selalu mencari apa yang bisa dijadikan uang. Mata orang pintar selalu mencari suatu lowongan pekerjaan.
11. Bill Gate (microsoft), Dell, Hendri (ford), Thomas Alfa Edison, Liem Siu Liong (BCA Group), adalah orang orang cerdas (tidak pernah dapat gelar S1,S2,dsb) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung kepada orang cerdas.
Sekarang kita pilih, lebih baik jadi orang pintar atau orang cerdas? kesimpulannya, jangan terlalu terpaku kepada jenjang pendidikan, tetapi buatlah suatu komitmen untuk menjadi orang yang cerdas. Kuncinya adalah “Resiko dan Berusaha”, karena orang cerdas berpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya ia berusaha agar resiko tersebut betul-betul kecil. Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya ia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Kembali kepada cerita di atas, jadi anda ingin menjadi orang apa ???
 :DDD

INSOMNIA

Insomnia adalah gejala[2] kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.
Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.[3] Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.
Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.

Diagnosa
Spesialis tidur kedokteran memenuhi syarat untuk mendiagnosis berbagai gangguan tidur. Pasien dengan berbagai penyakit termasuk sindrom fase tidur tertunda sering salah didiagnosis sebagai Insomnia.
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap:
  • Pola tidur penderita.
  • Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
  • Tingkatan stres psikis.
  • Riwayat medis.
  • Aktivitas fisik.
Diagnosis berdasarkan kepada kebutuhan tidur secara individual

Penyebab
Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan.
Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan.
Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Dengan bertambahnya usia, waktu tidur cenderung berkurang. Stadium tidur juga berubah, dimana stadium 4 menjadi lebih pendek dan pada akhirnya menghilang, dan pada semua stadium lebih banyak terjaga. Perubahan ini, walaupun normal, sering membuat orang tua berfikir bahwa mereka tidak cukup tidur.
Pola terbangun pada dini hari lebih sering ditemukan pada usia lanjut. Beberapa orang tertidur secara normal tetapi terbangun beberapa jam kemudian dan sulit untuk tertidur kembali.
Kadang mereka tidur dalam keadaan gelisah dan merasa belum puas tidur. Terbangun pada dini hari, pada usia berapapun, merupakan pertanda dari depresi.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur.
Hal ini sering terjadi sebagai akibat dari:
  • Jet lag (terutama jika bepergian dari timur ke barat).
  • Bekerja pada malam hari.
  • Sering berubah-ubah jam kerja.
  • Penggunaan alkohol yang berlebihan.
  • Efek samping obat (kadang-kadang).
  • Kerusakan pada otak (karena ensefalitis, stroke, penyakit Alzheimer).
 Gejala
Penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan.

Pengobatan
Pengobatan insomnia tergantung kepada penyebab dan beratnya insomnia.
Orang tua yang mengalami perubahan tidur karena bertambahnya usia, biasanya tidak memerlukan pengobatan, karena perubahan tersebut adalah normal.
Penderita insomnia hendaknya tetap tenang dan santai beberapa jam sebelum waktu tidur tiba dan menciptakan suasana yang nyaman di kamar tidur; cahaya yang redup dan tidak berisik.
Jika penyebabnya adalah stres emosional, diberikan obat untuk mengurangi stres. Jika penyebabnya adalah depresi, diberikan obat anti-depresi.
Jika gangguan tidur berhubungan dengan aktivitas normal penderita dan penderita merasa sehat, bisa diberikan obat tidur untuk sementara waktu. Alternatif lain untuk mengatasi insomnia tanpa obat-obatan adalah dengan terapi hipnosis atau hipnoterapi.

Durasi Tidur dan Kematian
Sebuah survei dari 1,1 juta penduduk di Amerika yang dilakukan oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya. Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis - tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian.